| 23-03-2012 14:54:36 ‘Invasi’ Tomcat yang Meresahkan |
Apa yang saat ini sedang meresahkan warga Surabaya, Jawa Timur, dan dikhawatirkan menyebar ke daerah lainnya? Tomcat. Serangga yang memiliki nama ilmiah Paederus riparius ini melakukan ‘invasi’ ke wilayah perumahan di Surabaya. Tomcat yang berwarna merah-hitam ini bisa menyebabkan ratusan orang mengalami luka seperti terkena herpes. Gigitan tomcat menimbulkan sensasi terbakar yang kemudian menjadi kemerahan disertai munculnya nanah di bagian tengah dalam beberapa hari. Sekadar informasi, tomcat adalah jenis serangga dengan nama lain Kumbang Rove. Di Indonesia, tomcat biasa disebut dengan Semut Semai atau Semut Kayap. Tomcat memiliki warna tubuh kuning gelap bergaris hijau serta kepala berwarna gelap. Tubuhnya bersayap meski kerap kali merangkak. Meski tak mengigit, serangga jenis itu memiliki cairan racun yang berbahaya, toxin hemolimf. Toxin hemolimf dikenal sebagai paederin yang memiliki keampuhan 12 kali lebih mematikan dari bisa ular kobra. Racun ini bahkan bisa bertahan delapan tahun setelah serangga mati. Serangga ini sangat suka dengan cahaya di malam hari, sehingga banyak yang menjadi korban adalah pengendara motor, atau mereka yang berada dalam rumah dengan cahaya terang atau sedang berkemah di dekat hutan. Umumnya, serangan Tomcat terjadi sepanjang tahun namun mencapai puncak pada Juli - September yang memiliki kelembaban iklim. Tomcat sebenarnya teman bagi petani di sawah karena mampu memakan hama yang selama ini merusak tanaman pangan. Namun, hilangnya keseimbangan lingkungan jadi penyebab munculnya tomcat di mana-mana. “Karena tempatnya sekarang banyak dipakai untuk perumahan. Makanya tomcat keluar sarang dan menyebar di mana-mana,” ujar Sekretaris Dinas Pertanian Hari Tjahyono. Jika serangga ini sampai menyerang manusia, seperti yang terjadi di Surabaya, maka sebenarnya serangga hanya bermaksud melindungi diri. Kemungkinan ada aktivitas manusia yang mengganggu. Menurut pakar serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Haris Sutrsino, tomcat terbang dengan cara yang unik, yaitu vertikal. Tak seperti serangga umumnya yang terbang dalam posisi tubuh horizontal, serangga ini terbang dengan tubuh tegak. Alhasil, kepala serangga ini pun menghadap ke atas saat terbang. Menurut Hari, cara terbang serangga yang termasuk dalam ordo Coleoptera ini bisa jadi merupakan akibat dari karakteristik sayap yang dimiliki. Jika ada Tomcat yang hinggap di tubuh atau pakaian, ingatlah untuk tidak dipegang atau digencet karena cairan tubuhnya mengandung toksin. Pada masyarakat yang terkena serangan serangga ini, Hari mengimbau agar tidak panik. Cukup mencuci dengan air sabun dan melakukan pengobatan ke instansi kesehatan. Pertolongan pertama, misalnya dengan mengoleskan salep Acyclovir 5 persen dan meminum antibiotik. Di Australia, tomcat yang disebut ‘rove beetle’ banyak terdapat di wilayah bagian Timur (eastern states). Beberapa waktu, dinas kesehatan publik juga sempat direpotkan akibat serangan sejumlah besar kumbang di beberapa wilayah. Karena kumbang ini tertarik dengan cahaya, maka untuk mencegah kedatangannya warga bisa dihimbau menutup jendela saat hari mulai gelap dan menyemprotkan cairan anti serangga di sekitar pintu luar. (JW/Berbagai Sumber) |







