| 22-02-2012 13:05:15 GAYA HIDUP BERSELINGKUH |
Sebut saja nama kedua pasangan ini Nico dan Dian. Karena bekerja di tempat yang sama, otomatis keduanya sering menghabiskan waktu berdua. Masing-masing dari mereka juga sudah memiliki pasangan hidup (menikah, red). Meski begitu, intensitas pertemuan yang sangat tinggi menimbulkan “rasa berbeda” di antara mereka. Mulailah tercipta “emotional affair”… Yap, sekarang ini, perselingkuhan seolah menjadi gaya hidup. Trend yang merambah kehidupan banyak orang. Dari hasil survey tabloid Inggris, The Sun, diketahui bahwa satu dari lima cowok di UK berselingkuh dari pasangannya, namun tanpa melakukan hubungan seksual. Affair yang mereka lakukan “hanya” sebatas hubungan emosional; simpati, saling menyayangi, dan bertingkah seolah-olah sebagai pasangannya. Simak pula hasil survei yang dilakukan Harlequin. Selain sebagai tempat bekerja, ternyata bagi sebagian orang, kantor menjadi salah satu ajang tempat berselingkuh! Di tempat inilah mereka menemukan orang lain yang “rasa-rasanya” lebih dapat memberi perhatian, kasih sayang, dan simpati dibanding pasangan resminya. Lebih mencengangkan lagi, baik responden cewek maupun cowok mengaku, kedekatan dengan teman kantor adalah suatu kewajaran, meskipun mereka sendiri sudah memiliki pasangan. Ironis memang. Seakan-akan hubungan mereka dengan pasangan resminya hanya formalitas belaka, tanpa benar-benar cinta. Gambaran dari tren ini bisa dilihat dengan jelas dalam film-film besutan Hollywood. Sebut saja Desperate Housewives, Sex and The City, atau Ally McBeal. Bahkan gaya hidup ini sudah diterjemahkan sejak serial zaman beheula berjudul Melrose Place (ingat?). Di antara cerita tentang bisnis, dunia kerja, pergaulan, selalu saja ‘nyelip’ bagian selingkuhnya. Boleh dibilang, selingkuh kerap dimulai cuma dari kebutuhan mendasar kamu yang nggak bisa dipenuhi oleh pasangannya. Para pelakunya kerap mencari pembenaran dengan mengatakan, “Habisnya cewek gue…” atau “Habisnya suami gue…”. Kebiasaan selingkuh mengembalikan kita pada pertanyaan yang paling mendasar, “Cintakah kamu pada pasangan? Kalau cinta, mengapa harus selingkuh?” Jawabannya cukup mengejutkan. Banyak pasangan dari generasi sekarang yang menikah bukan atas dasar cinta, namun karena ‘target’. Seolah-olah menikah itu memang suatu “kewajiban”. Kalau sudah mencapai usia tertentu namun belum menikah, ada semacam social pressure yang merongrong. Akibatnya, banyak pria dan wanita yang asal saja menikah, tanpa adanya ikatan atau komitmen yang kuat. Kalau sudah begitu, tidak heran mereka begitu mudah terjebak dalam “emotional affair” dengan orang lain. Mereka mencari kepuasan batin di mana-mana. Saya terkejut ketika tidak sengaja nguping pembicaraan dua orang wanita yang sedang mengantri tiket bioskop di belakang saya. Salah satunya berkata seperti ini, “Gue sih udah ada yang melamar; udah ada laki yang mau menghidupi gue. Aman…” Mendengar pernyataan itu, saya menyimpulkan bahwa setiap orang ingin menikah, namun motivasinya sudah bukan sekadar cinta lagi. Ada kepentingan lain yang “bermain” di baliknya. Tidak heran lalu ada quote jenaka berbunyi, “A woman always needs two types of man: the nice and responsible guy she’s married to, and the lovable guy she’s having affair with.” Tentu saja quote ini juga bisa diganti dengan, “A man always needs…” Emosi memang kalau mendapati pasangan kita selingkuh. Manusia mana sih di dunia ini yang rela kalau pasangannya selingkuh sama orang lain? Meski mengaku pernah atau memiliki hubungan dengan teman kerja, dan diperparah dengan membohongi pasangan karena hubungan terlarang tadi, para responden tetap mengaku bahwa kepercayaan dan kejujuran adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Kalau memang hubungan intern dengan pasangan sudah kuat, maka kecil kemungkinan seseorang akan terjerumus emotional affair atau (lebih parah lagi) sexual affair. Bagi kamu yang berencana untuk melakukan emotional affair dengan ‘tetangga sebelah’, atau justru sedang menjalaninya, segeralah berpikir lebih jernih. Apapun jenisnya, affair tetaplah affair. Ketahuan atau enggak, selingkuh tetaplah wujud dari pengkhianatan, dan tidak satu orang pun di bumi ini yang ingin dikhianati. Sebaiknya jangan terlalu berani ‘main api’ di mana pun kita berada. Dengan mengambil jarak dan membatasi diri, tentu kita bisa terhindar dari ‘cinta lokasi’ dengan orang lain. Last but not least, kalau memang kamu punya rasa simpati yang berlebihan, curahkanlah pada pasangan yang resmi,..jangan “dihibahkan” kepada orang lain! (TA/JW/Berbagai Sumber) |







