22-11-2011 23:30:39  “Nggak Banget, Deh…”

article details   

Mungkin kita terlatih menghadapi klien atau piawai dalam negosiasi harga. Tetapi pada situasi yang mengejutkan sekaligus memalukan; misalnya, tersenyum lebar di depan boss padahal ada cabai merah nyelip di gigi. Atau, baru sadar kalau selama presentasi ritsleting celana turun. Nah lho! Situasi apa saja yang kira-kira membuat seseorang malu dan berkata, “Nggak banget deh…”?


Ritsleting Turun   

Boleh jadi inilah kejadian yang paling memalukan dan bisa dialami oleh siapa saja. Bahkan kita sebagai “saksi” pertama yang tahu dan harus menyampaikannya ke yang bersangkutan pun sama-sama didera rasa malu. Sebanyak 67 persen pekerja akan menyampaikan aib ini bila posisi mereka sejajar, 62 persen akan berbuat sama bila yang jadi “korban” adalah bawahannya dan hanya 50 persen bawahan yang berani mengutarakan kejadian ini kepada pekerja yang tingkat jabatannya lebih tinggi. 


Kotoran di Hidung 

Kalau hidung terasa penuh tanpa disuruh pun kamu pasti langsung ingin membersihkannya. Sayangnya, kalau ada kotoran hidung yang tertinggal di pinggir hidung ternyata hanya 33 persen pekerja yang berani menyampaikannya kepada pekerja lain yang jabatannya lebih tinggi. Sekitar 51 persen bila level pekerjaannya sama dan sekitar 46 persen atasan yang berani menyampaikan kondisi memalukan ini kepada bawahannya. 


Sisa Makanan Terselip di Sela-Sela Gigi  

Kejadian memalukan seperti ini pasti pernah dialami siapa saja. Noda cokelat di bibir, sisa kangkung atau cabai terselip di sela-sela gigi yang baru kamu sadari saat bercermin dua jam setelah makan siang. Kenapa tidak ada seorang pun yang memberi tahu kamu? 


Ternyata berdasarkan penelitian, hanya sekitar 66 persen kolega yang akan menyampaikan aib ini bila kedudukannya setara dengan kamu. Ada sekitar 60 persen atasan yang berbaik hati menyampaikannya kepada bawahan dan hanya 49 persen bawahan yang berani menyampaikan hal serupa kepada kolega dengan kedudukan lebih tinggi. 


Rambut Acak-Acakan  

“Rambut berantakan” agaknya menjadi tren baru untuk penampilan yang dianggap seksi. Jadi, hati-hatilah menegur sesama rekan kerja untuk merapikan rambutnya. Kalau kamu karyawan di level yang tinggi, rapikan rambut kamu sesuai tatanan yang membuat kamu merasa paling nyaman. Soalnya, hanya sekitar 13 persen rekan kerja yang akan mengatakan kalau rambut kamu berantakan. Sekitar 30 persen berani mengatakan hal serupa kalau ia kebetulan memiliki kedudukan lebih tinggi, sedangkan bila levelnya sama, hanya 33 persen yang menginformasikan hal ini kepada kamu.


Pakaian Terkena Noda  

Pakaian terkena noda apapun pastilah merupakan hal yang paling sensitif bagi para pekerja, apa pun bidangnya. Ternyata sebanyak 51 persen pekerja yang mau menyampaikan kejadian yang tak disadari si pemakai bila mereka berada di level jabatan yang sama. Sebanyak 47 persen atasan mau menyampaikan hal ini kepada bawahannya, dan hanya 34 persen bawahan yang berani mengemukakan hal ini kepada atasannya. 


Napas Tak Sedap  

Boleh jadi kamu akan sulit mengatasi hal yang paling memalukan ini karena hanya 33 persen pekerja yang berani mengatakan bahwa rekannya membutuhkan penyegar mulut bila mereka berada pada level jabatan yang sama. Selebihnya hanya 29 persen atasan yang berani menyampaikan hal ini kepada bawahannya dan 14 persen bawahan yang berani mengutarakanya kepada atasan. Tentu saja karena Si Bawahan tak ingin membuat atasannya merasa lebih malu.


Belum Mandi 

Kalau ada seseorang yang belum mandi, aroma tak sedapnya sangat mungkin akan mengganggu siapa saja yang ada di sekitarnya. Sayangnya, hanya 28 persen pekerja yang berani menyarankan Si Sumber Bau untuk mandi dulu kalau level jabatan mereka sama atau lebih rendah. Sedangkan hanya ada 11 persen bawahan yang berani menegur atasannya soal ini kepada atasannya. 


Salah Kostum  

Penggunaan kostum yang tak sesuai dengan budaya kantor tentu akan membuat pemakainya merasa risih. Entah itu kelewat seksi, terlalu pendek, ketat, atau kelewat nyantai. Hanya sekitar 10 persen rekan kerja berani mengatakan kepada atasannya kalau busana yang dikenakan Si Bos terlihat “aneh”. Sebaliknya, sekitar 32 persen atasan yang berani menegur bawahannya. Sementara di level kedudukan yang sama ada sekitar 32 persen kolega yang mau menyampaikannya. 


Apa pun bentuk “aib” yang ingin kamu sampaikan, carilah waktu yang tepat dan dengan cara halus agar rekan kerja kamu malah tak semakin bertambah malu. Semua pekerja pasti pernah mengalami kejadian memalukan di kantor. Tak jarang, satu kejadian kecil bisa menjadi bahan perbincangan dalam waktu lama. Agar tak jadi bahan lelucon di kantor, empat langkah ini yang harus Anda ambil:


Tetap Tenang 

Lebih baik tenangkan diri selama beberapa detik. Wajar saja jika kamu bereaksi di luar dugaan (yang terkesan heboh), karena kamu memang kaget. Mengutip tagline sebuah iklan, yang harus dilakukan justru calm, cool, and confident. 


Jangan Pura-pura Tidak Tahu 

Taruhlah kamu dan teman-teman sedang bergosip mengenai rekan kerja yang menyebalkan, tanpa disadari, dia ternyata sedang berdiri di dekat kamu. Semua omongan yang keluar sudah pasti terdengar jelas olehnya. Yang harus kamu lakukan adalah menoleh ke arahnya sambil tersenyum dan meminta maaf. Jangan pura-pura tidak tahu, mencari alasan, apalagi menyalahkan orang lain. Catatannya, ketika meminta maaf pastikan dia atau siapapun tahu jika kamu benar-benar serius.


Tertawalah 

Jika orang lain tertawa, kamu pun bebas menertawakan diri sendiri. It’s fun to laugh at yourself! Orang-orang pun tak akan menganggap insiden yang dialami sebagai sesuatu yang memalukan. Anggap saja, kamu memberikan hiburan gratis pada rekan kerja di tengah deadline.


Move On 

Terlalu memikirkan momen memalukan atau terlalu “rajin” minta maaf malah akan membuka lebih lebar kesempatan untuk melakukan hal memalukan yang lain. Intinya belajar dari kesalahan dan perbaiki semampu kamu dan buka lembaran baru. 




 
Lifestyle advertising
Lifestyle advertising
Lifestyle advertising
Lifestyle advertising
Lifestyle advertising
Lifestyle advertising