| 22-11-2011 23:29:56 Mereka yang “Kreatif” Mencari “Rezeki” |
Seorang manager bertanya pada seorang pengemis: “Bapak lulusan apa? Di kantor saya ada lowongan kerja… Siapa tahu bapak berminat.” “Wah saya ini cuma lulusan SD. Makasih lho pak…tapi saya sudah merasa cukup dengan pendapatan saya sekarang…” “Emang pendapatan dari ngemis setiap bulan dapat berapa?” “Wah berapa ya, (tampak berpikir dan menghitung), saya mangkal di lampu merah perempatan dari jam 9 sampai jam 5 sore. Setiap jam ada 30 kali lampu merah. Rata-rata tiap lampu merah nyala, minimal saya dapat 5.000. Berarti sehari 5.000 x 30 x 8 jam = Rp1.200.000. Nah berhubung saya sabtu minggu libur, jadi itungannya 24 hari kerja tiap bulan x Rp.1.200.000 = Rp28.800.000.” “Wah gaji saya aja cuma Rp15 juta,” kata sang manager kagum “Emang bapak lulusan apa?” si pengemis balik bertanya “S2.” Hmm… Cerita di atas memang menggelikan. Tapi di samping geli, saya sendiri merasa keki, saudara-saudara! Bagaimana tidak, banyak orang yang jungkir balik kerja, banting tulang, memeras otak dan keringat untuk menjemput rizki, eeehh… mereka yang tinggal menadahkan tangan itu ternyata pendapatannya lebih besar! Bukannya terlalu melebih-lebihkan, tapi cerita tentang pendapatan fantastis dari mengemis bukan cerita yang dibuat-buat. Dalam salah satu koran jaringan grup Jawa Pos di tanah air, pernah ada artikel investigasi tentang pendapatan para pengemis. Memang tidak se-fantastis yang ada dalam cerita humor itu, tetapi tetap saja, penghasilan mereka lebih besar dari kebanyakan gaji pekerja kantoran. Dalam artikel itu dikatakan bahwa mereka berhasil mengantongi Rp.200.000 dalam sehari. Seandainya ‘hari kerja’ mereka sama seperti orang kantoran pada umunya, paling sedikit mereka mengantongi ‘gaji’ Rp. 4.800.000 dalam sebulan. Wow…untuk jenis pekerjaan yang tidak perlu repot menggunakan otak dan sedikit sekali tenaga, itu jelas besar sekali! Ada lagi hal yang tak kalah mencengangkan. Ternyata ada satu kampung yang rata-rata berprofesi sebagai pengemis. Yup… benar-benar pemukiman para pengemis, yang namanya terpaksa saya rahasiakan. Jangan membayangkan rumah mereka gubuk beratap seng berdinding kardus. Rumah mereka senormal dan sekokoh yang berprofesi sebagai non-pengemis. Bahkan menurut artikel itu pula, kalau diibaratkan segmentasi target media, rumah rata-rata pengemis itu terlihat seperti orang dari kelas B+ alias oke banget! Bukan cuma itu, saking banyaknya penghasilan mereka, saat Hari Raya Kurban datang, mereka bahkan berani menyumbangkan hewan kurban yang harganya tidak murah. Ckckckc… mantap! Tapi sayangnya, ‘niat baik’ mereka terpaksa ditolak oleh seorang tokoh agama. Katanya, pemberian kurban hanya untuk orang yang mampu secara materi. Kalau kekayaan didapat dari mengemis, beliau sama sekali tidak berpendapat kalau itu masuk dalam kategori “mampu”. Ckckck…ada-ada aja. Nah, meskipun begitu, kita tidak bisa menyangkal kalau pendapatan mereka memang fantastis. Pertanyaan selanjutnya adalah: how come? Bagaimana mereka melakukan itu? Tentu bisa. Kalau selama ini kita berpikir kreativitas cuma milik para entrepreneur, orang-orang media, orang-orang advertising atau orang-orang yang ada dalam industri hiburan, sudah saatnya kita merubah mind set kita karena para pengemis ini tak kalah kreatif. Tak percaya? Pertama, saya pernah memergoki seorang pengemis yang sedang membungkus tape (makanan) dengan kain kasa pembalut luka. Awalnya saya bertanya-tanya buat apa? Ternyata oh ternyata, setelah dililitkan ke kaki, dan dibubuhi obat merah, jadilah luka palsu. Dengan aroma tape yang khas itu, lalat-lalat lalu berdatangan mengerubungi luka dan memberi efek dramatis agar orang-orang merasa kasihan. Kedua, para pengemis wanita sering menggendong anak (bahkan bayi) ke mana pun mereka pergi. Kalau mereka tidak punya bayi atau anak kecil, ya pinjam saja. Reality bites, tapi tidak jarang anak-anak atau bayi yang mereka gendong di jalanan adalah hasil penculikan. Ketiga, mereka ini adalah aktor dan penyamar yang baik. Di daerah saya, ada seorang pengemis laki-laki bersarung dan berpeci lusuh yang rambutnya panjang beruban. Saya masih percaya itu sampai akhirnya teman saya bercerita tentang kesialan sang pengemis. Saat sedang ‘berdinas’ di lampu merah, dia tersandung, dan rambutnya terlepas! Ternyata itu wig, saudara-saudara! Satu lagi cerita konyol dari pengemis. Bukannya saya arogan, tapi saya sebal sekali pada seorang pengemis laki-laki yang suka berkhayal dirinya adalah kudanil. Dia suka sekali berbaring, menggelesor di tanah becek dan pasang tampang memelas sambil bilang “Buu..minta uang…belum makan seminggu bu…” (Dalam hati saya, hebat, seminggu belum makan masih kuat ngomong). Yang lebih menyebalkan lagi, saat meminta-minta ia sering sengaja menyorong-nyorongkan tangannya ke kaki para wanita yang lewat. Maksud loooh??? Tapi suatu hari, dia kena batunya. Saat sedang total akting berbaring tidak berdaya di tanah becek, tiba-tiba petugas Trantib (dinas Ketentraman dan Ketertiban) datang menggerebek. Ajaib, dia yang tidak makan seminggu itu langsung berdiri, segar bugar, dan langsung ngacir secepat kilat! Belum lagi modus-modus seperti berdiri di ATM sambil menyodorkan amplop berlabel pesantren (hadeuh…malu-maluin kaum santri aja), bicara di dalam bis sambil beraklamasi yang isinya menyindir-nyindir supaya kita memberi (“Daripada kami merampok, mencuri, mencopet, lebih baik kami jujur meminta pada Anda”), atau metode curcol yang ujung-ujungnya tetap minta (“Anak-anak saya masih kecil dan saya ingin memberi mereka makan hari ini… bla bla bla,” bikin geleng-geleng kepala) Saya jadi mengerti kenapa Pemerintah DKI mengeluarkan Perda No.8 tahun 2007 yang melarang siapapun untuk memberi pada pengemis (lengkap dengan ancaman pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari, atau denda paling sedikit Rp. 100 ribu dan paling banyak Rp. 20 juta). Walaupun awalnya terdengar seperti pengekangan hak seseorang untuk beramal baik, tapi kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga. Yaaa…seperti industri saja…kalau tidak ada permintaan, suplay akan menurun. Kalau orang berhenti memberi, otomatis penghasilan mereka akan menipis, dan tidak mustahil akan berhenti. Masalahnya bukan cuma karena mereka dianggap merusak ketertiban dan keindahan kota, tapi saya setuju karena melihat dari segi sosial. Kalau semakin banyak orang yang bermental pemalas dan tidak mau kerja keras seperti orang-orang ‘kreatif’ itu, mau jadi apa bangsa kita nanti? Masih bisakah disebut bangsa yang bermartabat? Kalau memang merasa hak untuk berbuat baik dikekang, ah rasanya tidak juga. Memangnya berbuat baik atau bersedekah cuma bisa kita lakukan pada pengemis (yang notabene kita tidak tahu jujur atau tidaknya)? Mungkin akan lebih berguna jika kita memberi orang yang kita tahu pasti benar-benar membutuhkan, atau melalui lembaga yang sudah kita percayai kredibilitasnya. Ya toh, ya toh? (esme fadliha) |







