| 29-08-2011 21:47:14 Sepenggal Kisah dari Lembah Anai |
Saya tidak pernah mengira, pertikaian antara saya dengan musuh besar saya berakhir hari itu. Entah karena pengaruh pargede jaguang yang lezat itu, entah karena trauma saya memang sudah menghilang, atau entah karena apa. Yang jelas, pemandangan dan suasana yang terbentang di Lembah Anai membuat saya akhirnya melupakan dendam kesumat saya pada makhluk jahiliyah berbulu bernama monyet. Tapi sebelum saya bercerita perkara dendam kesumat itu, izinkan saya memberikan prolog terlebih dulu. Selama ini saya selalu melewati Lembah Anai (untuk pergi ke Bukittinggi) dengan mobil travel yang bertarif Rp 16.000. Kalau tidak mau ditimpuk penumpang lain, jelas saya tidak mungkin minta berhenti seenak hati. Jadi, bagaimanapun menggodanya air terjun Lembah Anai, dan betapapun indahnya pemandangan sepanjang jalan raya Padang-Bukittingi, saya harus melupakan keinginan untuk sekedar bermain air dan foto-foto di salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di Sumatra Barat itu. Tapi rupanya hari itu hati kakak saya diliputi belas kasihan. Ia iba melihat saya, adiknya yang datang dari Jakarta, hanya bengang-bengong selama liburan. Akhirnya, ia mengajak saya ke Lembah Anai! Yang membuat saya excited adalah: kami naik motor! Hwaaa… membayangkannya saja saya rasanya sudah ingin loncat-loncatan saking gembiranya. Kalau selama ini saya harus terkurung dalam mobil tanpa bisa turun, kali ini saya akan bebas sebebas-bebasnya.
Tanpa terhalang jendela mobil, dan dengan angin yang menderu seru saat motor kami melaju, perjalanan jadi jauh lebih menyenangkan. Tiba-tiba saya jadi teringat lagu yang sering ayah saya putar semasa saya kecil. Malereang lah tabiang malereang, mak oi Malereang sampai nan ka pandakian Den sangko langik nan lah teleang, mak oi Kironyo awan nan manggajuju Jujur saja, saya tidak pernah tahu siapa yang menyanyikan lagu itu. Tapi walaupun kemampuan bahasa Minang saya minim sekali, sedikit-sedikit saya bisa memahami kalau lagu itu bercerita tentang betapa menyenangkannya menyusuri lereng-lereng tebing. Bukit yang sambung menyambung, sungai berair deras lengkap dengan batu-batu besar, hijau di mana-mana, dan udara sejuk yang meniup-niup sepanjang perjalanan. Ah…rasanya saya tidak ingin kembali ke Jakarta.
Sebenarnya, kalau dilihat dari topografi dan sejarahnya, Lembah Anai ini adalah kawasan yang agak “menyeramkan”. Pertama, karena wilayah ini langganan longsor. Terakhir, tahun 2010 lalu hujan besar yang mengguyur terus menerus menyebabkan longsor parah. Akibatnya, jalur Padang-Bukittinggi yang notabene adalah urat nadi utama transportasi antara dua kota terpenting di Sumatra Barat itu terputus.
Berhubung wilayah itu juga wilayah rawan gempa, keseraman bertambah. Kadang saya membayangkan, apa jadinya kalau batu-batu besar yang menempel di tebing-tebing sepanjang jalan, menggelinding ke bawah saat ada gempa? Dan kebetulan saya sedang melintas, naik motor pula. Hwiii… ngeri. Apalagi, nenek saya pernah bilang, orang-orang zaman dulu tidak akan mungkin melupakan kenangan pahit tanggal 26 juni 1926.
Waktu itu gempa 7,8 Skala Ritcher melanda wilayah Padang Panjang dan sekitarnya. Setidaknya 350 orang meninggal dunia, lebih dari 2.383 rumah rusak parah, dan Lembah Anai sebagai jalur utama yang menghubungkan kota kawasan ‘atas’ (darek) seperti Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, Padangpanjang dan Solok dengan kota di kawasan ‘bawah’ (pasisia) seperti Pariaman, Lubukbasung, Padang dan Painan rusak parah. Saking dahsyatnya gempa itu, konon setelahnya, seluruh telur ayam menjadi tamalangan, aliyas tidak bisa menetas dan membusuk dalam cangkangnya.
Tapi keseraman itu benar-benar terlupakan. Saya jadi tidak peduli dan mendadak seperti amnesia karena lukisan alami yang Tuhan perlihatkan, saat saya benar-benar tiba di air terjun Lembah Anai. Pemandangan yang selama ini hanya saya lihat sepintas, kini benar-benar ada di depan mata. Air yang tercurah susul menyusul dari ketinggian sekitar 50 meter itu menciptakan kabut halus. Dan, ya ampun, saat sinar matahari tepat jatuh di antara kabut-kabut halus itu, warna-warni pelangi menguar di sekelilingnya. Sejenak saya agak yakin Tuhan menciptakan air terjun itu sebagai replika surga (walaupun hanya sepersejutanya!)
Mungkin saat itulah Tuhan menginginkan pertikaian menahun saya dengan makhluk jahil berbulu itu dihentikan. Saat sedang asyik beristirahat setelah kaki keriput karena terlalu lama berendam di air, dari ekor mata, saya menangkap sesuatu yang berwarna abu-abu bergerak mendekat. Refleks, badan saya pun menegang. Refleks semacam itu bermula dari kejadian saat usia saya masih balita. Waktu itu saya dan empat orang kawan saya saling mempertaruhkan gengsi dengan adu berani berdekatan dengan monyet kecil jenis beruk milik seorang tetangga. Saya lupa siapa yang mengawali adu gengsi itu. Tapi rasanya waktu itu harga diri saya sebagai anak kecil dicederai (ceilehh), karena teman-teman bilang saya tidak berani dekat-dekat dengan si beruk. Sebenarnya saya yakin, kami semua tidak punya nyali sebesar itu, tapi akhirnya dari radius kira-kira 7 meter, kami semakin dekat dengan si beruk sambil bergantian teriak, “Aku berani…Aku berani!!” Sadar kalau ada bocah-bocah nakal mendekat, si beruk mulai gelisah. Matanya melotot waspada, badannya menegang. Tapi kami, tetap (sok) berani, sampai pada jarak setengah meter, tidak ada lagi anak yang berani lebih dekat. Akhirnya dengan sok jagoan saya maju hingga hanya berjarak beberapa senti dari si beruk dan teriak kencang “Niiihhh…aku paling beranii..!!!”
Entah kaget, atau memang geram, si beruk menyambar tangan kanan saya dan dengan segenap tenaga membenamkan gigi-gigi tajamnya di pergelangan tangan saya. Krauukk!! Darah mengalir dan saya menangis histeris. “Mamaaaaaa….!!!!!” Teman-teman saya lari semburat, kabur, tapi semua teriak, “Mama Adeee…. Si Ade digigit monyeeettt!!!”
Sudah hampir 23 tahun terakhir saya tidak pernah berani dekat-dekat dengan yang namanya monyet. Jenis apapun. Benar-benar jaga jarak. Tapi di Lembah Anai ini, akhirnya trauma itu berakhir. Awalnya saya terlonjak kaget waktu sadar benda abu-abu yang mendekat itu adalah seekor beruk. Kakak saya tertawa. Tapi melihat pengunjung lain merubung memberi makan, kakak saya mulai ikut-ikutan. Dan ya ampun…jumlah monyet yang mendekat semakin banyak.
Pargede Jaguang aliyas perkedel jagung yang tadi kami beli di jalan ia keluarkan dari tas. Saya sedikit naik darah. Whattt?! Pargede Jaguangnya mau dikasih ke si beruk jahanam itu?! (Maafkan saya beruk kawanku, waktu itu saya masih sebal padamu). Enak aja… Bukan apa-apa, masalahnya, makanan yang dijajakkan oleh abang-abang (dua ribu rupiah saja) di sepanjang jalan ke arah Lembah Anai itu adalah favorit saya. Dan saya tidak mau berbagi dengan musuh besar saya.
Tapi melihat kakak saya dan pengunjung lain berasyik ria memberi makan monyet-monyet itu, saya mulai tertarik. Kalau saya perhatikan, wajah monyet-monyet itu lucu semua. Ekspresinya pun sama sekali tidak mirip dengan monyet yang menggigit saya dulu. Hmm...baiklah, mungkin inilah saatnya menghentikan “kepahiitan” 23 tahun itu. Jadi dengan sedikit takut-takut, saya mengambil Pargede Jaguang. Begitu melihat saya memegang makanan, beberapa monyet menatap penuh harap dan mendekat. Agak deg-degan, saya mengulurkan tangan, dan salah satunya mengambil dan langsung melahap sekali suap.
Wah…ternyata memang menyenangkan! Sensasi mulas karena takut perlahan berganti tawa melihat ulah monyet-monyet jinak itu. Bahkan saya mulai berbagi dengan monyet-monyet itu. Satu suap masuk mulut saya, suapan lain saya beri pada mereka. Mesra sekali. Sekarang saya sadar kalau cerita-cerita tentang monyet-monyet liar yang berkeliaran di sekitar Lembah Anai itu memang benar. Tentang betapa lucu dan menggemaskannya mereka.
Berhubung pertikaian itu sudah berakhir damai karena kombinasi kelezatan Pargede Jaguang dan suasana Lembah Anai yang super indah, saya tidak lagi menganggap bekas gigitan di pergelangan tangan saya itu adalah sejarah kelam. Saya melihatnya seperti seni. Tato istimewa berupa dua bilah gigi yang tidak satupun orang memilikinya. Ini tatoku, mana tatomu? (Esme/Jossie) |







