23-01-2010 20:57:57  Cinta dan Filoso Tombol Cassette Player

article details   
Baru-baru ini, seorang teman membagikan cerita cintanya yang super kelabu. Katanya, tahun 2010 adalah saat ‘matahari’ bersinar kembali. Setelah 4 tahun terjebak dalam kenangan pahit yang tak kunjung hilang, akhirnya ia mengalami ‘kesembuhan batin’ yang nyata.

Awalnya adalah ketika ia putus hubungan dengan (mantan) pacar. Sebabnya? Orang ketiga. Woo-hooo! Pokoknya drama banget, deh. Karena putusnya tidak baik-baik, alhasil ada yang mengganjal di hati masing-masing. Kesalahan terbesar yang dilakukan pasca-putus adalah 3 hal berikut:


1. Rewind
Putar waktu sampai ke hari pertama kali bertemu. Inilah yang sering dilakukan banyak orang. Persis seperti kaset yang direwind. Saat side A sudah habis, rewind lagi. Mau ulang lagi. Mau dengar lagi. Ingat terusss apa kata-kata manis si mantan waktu dulu. Ingat saat-saat indah waktu baru jadian. Ingat benda-benda apa aja yang dia kasih. Bongkar treasure box yang isinya benda-benda pemberian mantan. Buka inbox HP dan baca sms-sms manis dari dia. Semua yang terjadi di masa lampau terus menerus dipelihara dan dibawa ke hari depan. Inilah kesalahan utama yang sering dilakukan seseorang setelah putus!


2. Pause
Kesalahan kedua yang nggak kalah penting: hati kita membeku saat itu juga. Membeku dalam sebuah keadaan yang sangat tidak kondusif, yaitu habis putus. Lucu, walaupun rasanya sakit, tapi banyak orang yang senang menyimpan kenangan pahit itu sampai lamaaaa banget. Setelah putus, mereka pun bagaikan ‘terdiam’ dan membiarkan diri terhempas ke karang oleh ombak besar. Sama sekali nggak mau bergerak menghindari rasa sakit. Seakan-akan mereka menikmati kepahitan itu. Hidup jalan terus, tapi hati tetap di-pause. Akibatnya, banyak pintu hati yang tertutup rapat. Tertutup untuk menerima cinta dari orang lain, serta tertutup untuk memberi cinta kepada orang lain.


3. Fast Forward
Yang terakhir, banyak yang pura-pura tegar dengan bergerak cepat ke depan. Sayangnya, terkadang mereka berlari terlalu jauh ke depan sampai-sampai melewati fase krusial yang diperlukan dalam menyembuhkan rasa sakit hati. Pergerakan mereka dilakukan hanya untuk ‘melupakan’ kepahitan - bukan melenyapkannya. Mereka menghindari banyak hal yang berhubungan dengan mantan - seringkali termasuk rasa cinta. Kadang-kadang karena terlalu kencang berlari, mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami hal-hal indah; misalnya berdamai dengan mantan atau berjumpa orang baru.

Ketiga hal inilah yang menghalangi teman saya selama lebih dari 4 tahun. Ia terbelenggu dalam kenangan bersama sang mantan, padahal mantannya sudah punya pasangan baru. Ia menyalahkan diri sendiri. Ia mencaci-maki sang mantan. Ia dendam kesumat pada orang ketiga tersebut. Ia tenggelam dalam emosi dan kepahitan. Tanpa sadar, ia ‘membunuh’ dirinya sendiri.

Kenapa dibilang membunuh? Karena setiap hari ia cuma merasakan geram dan marah. Hatinya capek. Air mata habis. Dan dia juga sudah kehabisan gaya untuk bengong. Syukurlah saat akhir tahun kemarin ia seperti mendapat ‘pencerahan’, ‘wangsit’, ‘suara Tuhan’..you name it.

Bunyinya begini: “2010, let bygones be bygones”. Yang sudah lewat, ya, biarkan lewat. Dulu ya dulu. Setelah merenungkan pesan itu, ia pun mencoba  ‘memencet’ tombol lain pada cassette player:


1. Stop
Walaupun merasa lagi asyik-asyiknya, tetap saja kaset harus dimatikan kalau memang sudah waktunya mati. Mungkin kita harus tidur, pergi, atau apa saja, yang pasti kaset harus mati. Begitu pula dengan peristiwa pahit ini. Kalau memang sudah putus, ya, tekan tombol stop. Jangan cuma tekan tombol ‘pause’, karena tombol itu menyimpan harapan untuk dijalankan kembali.


2. Play
Tombol stop telah ditekan. Lagunya mati. Kesepian menguasai ruang. Tapi jangan sekali-kali membiarkan diri tunduk dalam kehampaan itu. Kita berkuasa penuh atas hati dan perasaan. Kita bebas menghidupkan kembali segala yang telah ‘mati’ dengan menekan tombol ‘play’. Mainkan kembali hati yang hancur itu. Hidupkan keceriaan dan harapan.

Filosofi tombol cassette player ini dimaksudkan agar kita semua menjalani hari-hari dengan hati yang bebas - bukan hati yang terjebak dalam kenangan pahit sebuah kisah cinta. Rasa pedih itu tidak akan menghampiri kalau kita tidak mengizinkannya. So, let bygones be bygones! (jos)