| 29-06-2012 21:57:35 Lim Sioe Liong and His Legacy |
Berita mengenai berpulangnya pengusaha legendaris Lim Sioe Liong / Sudono Salim yang akrab disapa Oom Liem ini pasti selalu mendapat tempat di media. Sebagai sosok warga keturunan atau etnis minoritas, Oom Liem telah menanamkan pengaruh yang kuat baik dibidang ekonomi maupun politik. Di zaman Orde Baru yang dikenal “alergi” dengan segala hal yang berbau Tionghoa, anehnya sosok Oom Liem sanggup menerobos “racial barrier” yang ada sehingga mantan Presiden Soeharto memiliki rasa hormat dan menjalin “hubungan mesra” dengannya. Ini tentunya berseberangan sekali dengan “ideologi bisnis” para pengusaha Tionghoa Indonesia yang sebisa mungkin menjauhi ranah politik karena birokrasi saat itu dianggap tidak mengakomodir warga keturunan. Namun adalah, “political connection”-nya yang membuat Oom Liem seperti “kepala suku” bagi para pengusaha Tionghoa. Apa yang diucapkannya, dihormati dan diikuti oleh para pengusaha. Bahkan dikalangan internalnya, sebuah telpon darinya diketahui dapat melerai pengusaha yang sedang bertikai. BUT…tentunya perlu kita ketahui bahwa sebuah kharisma, kemakmuran dan pengaruh tidak hanya datang dalam waktu semalam. Bahkan orang sebesar Oom Liem memulai kesuksesannya dengan kerja keras dari bawah. Liem lahir pada tanggal 16 Juli, 1916 Fujian, Cina. Besar dari keluarga petani sederhana. Liem benar-benar memulai hidup dari nol. Sebuah peristiwa yang menentukan takdir hidupnya adalah datangnya penjajahan Jepang ke Cina pada tahun 1938. Seluruh harta kekayaan keluarganya ludes dijarah Jepang. Disinilah Liem muda bertekad untuk mengadu nasib ke “Selatan.” Dengan modal nekad, ia menumpang sebuah kapal yang berlabuh di Fuzhou. Berlayarlah kapal tersebut mencapai kota Surabaya. Karena gelap, ia dicekal oleh imigrasi dan tidak diperkenankan untuk keluar pelabuhan. Beruntung, kakaknya yang sudah terlebih dahulu berdomisili di Indonesia datang membantu. Sang kakak, Lim Sioe Hie membawanya ke Kudus dan mempekerjakannya di sebuah pabrik tahu. Kebetulan keluarga Liem juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan menjadi supplier logistik, Liem bertemu dengan Soeharto, sosok penting yang kemudian menjadi Presiden ke-2 Indonesia serta berperan besar dalam bisnisnya di masa mendatang. Relasi yang ia bangun dengan Soeharto tidak terbuang percuma. Ketika Soeharto secara official menjadi Presiden pada tahun 1968, Liem mendapat berbagai kemudahan dalam menjalankan bisnis. Bersama dengan Sudwikatmono (sepupu Soeharto), Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, mereka (dikenal dengan sebutan “The Gang of Four”) membangun CV Waringin Kentjana, perusahaan yang bergerak di perdagangan kopi, karet, gula dan beras. Kejelian Lim dalam memilih dan membangun bisnis patut diacungi jempol. Pada tahun 1970, bersama rekannya ia mendirikan pabrik tepung terigu, PT Bogasari. Tepung terigu seperti kita tahu adalah kebutuhan sehari-hari dan semua orang butuh. Tak heran bisnis tersebut berkembang pesat dan menjadi pembeli gandum komersial terbesar pada tahun 1991. Belum lagi ditambah dengan akses monopoli impor dan distribusi yang ada. Kejeniusannya belum berakhir, kali ini ia menangkap potensi usaha properti. Bersama dengan Ciputra, ia membangun PT Metropolitan Kentjana pada tahun 1972. Disinilah perumahan Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai lahir dan saat itu dipandang sebagai perumahan elite. Tiga tahun kemudian Liem melanjutkan “combo”-nya dengan berinvestasi dalam produksi semen melalui PT Indocement Tunggal Perkasa. Memanfaatkan Indonesia yang saat itu sedang dalam era pembangunan, Liem menikmati dominasinya di pasar semen. Pada tahun 1980, Liem melebarkan sayapnya di bisnis otomotif melalui PT Indomobil Sukses International. Bahkan merambah ke bidang perbankan dengan didirikannya Bank Central Asia (BCA). Namun bisnis tersuksesnya hingga saat ini adalah PT Indofood Sukses Makmur. Didirikan tahun 1990, perusahaan ini menjadi penghasil mi instan terbesar di dunia melalui merk dagang utamanya: Indomie. Pada tahun 1997, perusahaannya, Salim Group diketahui memiliki aset $US 20 trilyun dengan kepemilikan lebih dari 500 perusahaan dan 200,000 karyawan. Tahun 1998, kerusuhan Mei meletus dan rumahnya dibakar massa. Liem melarikan diri ke Singapura dan sejak saat itu menetap disana hingga akhir hayatnya. Namun Salim Grup tetap bertahan dan terus berkembang dibawah kepemimpinan anaknya Anthony Salim. (Johan) |







