| 23-03-2012 15:19:54 Bukan Sekadar Untaian Kata |
Kau hancurkan aku dengan sikapmu… Tak sadarkah kau telah menyakitiku.. Lelah hati ini meyakinkanmu… Cinta ini membunuhku… (D’Massiv) Kalau sedang dalam kondisi biasa-biasa, mungkin lagu itu tidak memberi pengaruh apapun, tapi kalau kebetulan kita sedang patah hati, dijamin lirik ini akan semakin meremas-remas hati mereka yang sedang luka (tsaaah!). Kalau kata orang Sunda, nyeredet hate aliyas menyayat-nyayat hati. Kalaupun saya tidak memutuskan untuk mengambil tali dan mencari pohon untuk gantung diri, lagu itu bisa membuat saya muram sepanjang hari. Nah, bagaimana kalau dengan lagu “Kenangan Terindah” Samson berikut ini? Bila yang tertulis untukku… Adalah yang terbaik untukmu… Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku… Sebenarnya, lagu ini juga sama-sama lagu patah hati, tapi kok rasanya beda ya? Walaupun sama-sama lagu tentang putus cinta, lirik lagu yang kedua jauh lebih terasa positif dan tidak meratap-ratap. Menurut saya, lirik yang kedua mengandung sebuah kepasrahan, dan keikhlasan ketika orang yang kita cintai tidak menjadi milik kita (ngok!). Berdasarkan pengalaman pribadi itu, bila lagu diibaratkan sebagai manusia, maka lirik lagu adalah personality-nya…Mau bagaimana pun kepribadian kita sendiri, kadang dengan siapa kita bergaul, sedikit banyak kepribadian kita akan terpengaruh. Kalau berdekatan dengan orang yang ceria dan mudah tertawa, kita akan mudah ikut terbawa ceria. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang yang sedikit-sedikit mengeluh, melow-melow, galau-galau penuh drama, mana mungkin kita bisa tetap ceria? Lagu Bisa Jadi ‘Hantu’ Ya, secara ilmiah, lagu memang terbukti bisa mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Gabungan antara lirik dan melodi layaknya seperti roh dari sebuah lagu yang bisa membuat pendengarnya terbawa dengan pesan yang disampaikan. Saking berpengaruhnya ‘roh’ ini, orang-orang berpengaruh negeri ini pernah begitu gusar dengan lagu-lagu yang bergentayangan pada jaman mereka berkuasa. Sebut saja Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Di masa-masa awal negara ini merdeka, tepatnya tahun ’60-an, Bung Karno sempat mengeluarkan “regulasi politik kebudayaan” dengan mencekal lagu-lagu berbau budaya Barat atau yang beliau sebut musik ngak ngik ngok. Menurutnya, jenis musik ini tak beda dengan neokolonialisme kebudayaan yang bisa mengancam dan membahayakan jalannya revolusi yang belum selesai. “Dan engkau, hai pemuda-pemudi; engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik; kenapa di kalangan engkau banyak yang masih Rock & roll-rock & rollan, dansa-dansian ala cha-cha-cha. Musik-musikan ala ngak-ngik ngok, gila-gilaan dan sebagainya lagi? Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan?” Begitu katanya dalam sebuah pidato. Musik ‘ngak ngik ngok’ dilarang berkumandang atau dipertontonkan di hadapan publik. Piringan hitam dari musisi-musisi luar negeri macam The Beatles, Rolling Stones, atau The Shadow, dirazia di mana-mana bagaikan narkoba, dan icon musik Indonesia tahun 60-an, Koes Bersaudara, terkena imbasnya. Mereka sempat mencicipi tinggal di balik jeruji besi karena dianggap terlalu seperti The Beatles. Pencekalan lagu terulang lagi di era 80-an ketika Soeharto memerintah. Mungkin mereka yang sudah berumur masih ingat ketika Menteri Penerangan Harmoko melarang lagu “Hati Yang Luka” milik penyanyi Betharia Sonata yang sedang ngetop-ngetopnya untuk diputar di TVRI. Harmoko menganggap lirik lagu itu terlalu dangkal dan cengeng. Menurutnya, jika lagu ini terus menerus diputar, pelan-pelan mental bangsa Indonesia akan terpengaruh. Lagu seperti itu dianggap tidak sesuai dengan usaha pembentukan karakter bangsa Indonesia yang sedang bertumbuh, begitu katanya. Alasan yang sama pun dikenakan untuk mencekal lagu-lagu Iwan Fals. Lirik-lirik Iwan Fals yang dianggap provokatif dan bisa menimbulkan kerusuhan, tidak boleh diputar dan Iwan Fals pun tak boleh menggelar konser dimana pun. Lihat kan, betapa kata sesederhana lirik lagu bisa membuat para penguasa bertindak serius! Hati-hati Dengan Lirik Memang sih, apa yang dilakukan oleh pemerintah pada saat itu dianggap tidak masuk akal dan memberangus kreativitas bangsa sendiri, tapi kalau melihat lirik-lirik lagu Indonesia saat ini yang jauh lebih parah dan tidak edukatif bila dibandingkan lagu “Hati Yang Luka” Betharia Sonata, Saya jadi berpikir bahwa apa yang mereka pikirkan sebenarnya nggak salah-salah banget. Dengar saja lirik lagu “Hamil Duluan”…selain liriknya (ku hamil duluan..sudah tiga bulan, gara-gara pacaran tidurnya berduaan) bikin geleng-geleng kepala. Belum lagi lagu milik Ahmad Dhani yang berjudul “Madu Tiga” (Kalau istri tua merajuk, pergi ke rumah istri muda, kalau dua-dua merajuk, ana kawin tiga), wah-wah…rasanya mau pingsan dan kembali bertanya-tanya, serius nih lagu??? Apalagi kalau mengingat Dhani adalah pencipta lagu handal, contohnya lagu “Cintakan Membawamu Kembali” yang menurut saya adalah salah satu lirik terbaik lagu Indonesia (Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu, temani air mataku, teteskan lara, merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi). Saya jadi tidak percaya bahwa Dhani pindah haluan begitu jauh. Dan ya ampun… Kenapa lagu salah satu band yang berlirik betapa dirinya tak laku-laku, begitu laku di Indonesia?? Ya, memang sih itu salah satu bentuk kreativitas, dan buktinya memang disukai, tapi seperti apa yang dikatakan oleh Hitler bahwa kebohongan yang dikatakan terus menerus bisa berubah menjadi kebenaran, kalau lagu-lagu yang berlirik non edukatif dan jauh dari kesan positif itu terus berkembang di Indonesia, mau jadi apa bangsa ini??? (diucapkan dengan nada dramatis ya sodara-sodara). Bayangkan juga jika ada orang yang benar-benar gantung diri setelah mendengar lagu ‘nyeredet hate’ milik D’Masiv. Bayangkan kalau bocah cilik bercita-cita punya istri tiga setelah membayangkan betapa asyiknya poligami seperti dalam lagu Ahmad Dhani… Bayangkan kalau lagu “Hamil Duluan” dinyanyikan (dan dihayati) anak kecil… Apakah kita rela kalau semua itu jadi kebenaran? Mungkin memang terdengar lebay, tapi sebagai salah satu sarana kesenian yang punya pengaruh kuat, rasanya para seniman harus lebih berhati-hati lagi untuk menciptakan lirik. Lirik patah hati tak perlu meratap-ratap dan pesimistis kan? Lirik bagus tak perlu selalu puitis kan? Lihat saja yang dilakukan Iwan Fals, Slank, atau milik Ipank berikut ini: ‘ Bersamamu kuhabiskan waktu Senang bisa mengenal dirimu Rasanya semua begitu sempurna Sayang untuk mengakhirinya (Sahabat Kecil - OST. Laskar Pelangi) Sesederhana apapun, karya seni akan memberi pengaruh besar, tergantung apa isi pesannya. Kalau karya seni di Indonesia tetap dibiarkan dengan aura meratap-ratap, isinya melulu tentang selingkuh, atau soal hamil di luar nikah, terbayang kan pengaruh apa yang bisa berkembang pada generasi di depan sana? (Esme) |







