23-03-2012 15:18:05  Save The Last Two Drops Water

article details   

Diobok-obok airnya diobok-obok

Ada ikannya kecil-kecil pada mabok


Lagu berjudul “Air” yang dipopulerkan oleh Joshua pada tahun 90-an itu mungkin bisa menggambarkan arti air bagi orang Indonesia. Mau diobok-obok kek, mau semprot-semprotan kek, mau disiram-siram kek, atau bahkan dibuang-buang, ya bebas aja. Lha wong, Indonesia itu negara  peringkat ke-5 terbesar di dunia yang kaya akan air setelah Brazil, Rusia, dan China. Apalagi potensi ketersediaan air di Indonesia rata-rata 15.500 meter3 perkapita/tahun (jauh lebih besar dari rata-rata ketersediaan air di dunia yang hanya 600 meter3/tahun). Dengan kondisi iklim dan curah hujan tinggi yang dimiliki Indonesia, nggak perlu takut kekurangan airlah… 



Kaya Tapi Krisis


Wah-wah, tapi benarkah demikian? Kenyataan tentang betapa Indonesia kaya akan air memang benar, tapi apakah kita semua yakin resiko krisis air sama sekali tidak mengintai Indonesia di tahun-tahun yang akan datang? Meski kaya akan air, faktanya, beberapa hasil studi para ahli melalui Forum Air Dunia memprediksi bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang terancam akan mengalami krisis air bersih pada 2025 mendatang. How come…how come?


Alasan pertama, para ahli menemukan bahwa Indonesia belum bisa mengelola air dengan baik. Menurut penelitian UNEP, level pengelolaan sanitasi di Indonesia hanya 55%, dan Jakarta hanya memiliki 2% saja akses pembuangan yang layak. Jadi, tidak heran kalau penelitian United States Agency for International Development (USAID) di berbagai kota di Indonesia mendapati bahwa hampir 100 persen sumber air minum kita tercemar oleh bakteri E-Coli dan Coliform. Sebanyak-banyaknya persediaan air di Indonesia, apa artinya kalau tidak bersih dan layak pakai? 


Kedua, tingkat konsumsi yang tinggi membuat ketersediaan air yang begitu melimpah tak lagi berarti banyak. 30.569, 2 juta meter kubik air yang tersedia di pulau Jawa, rupanya tak bisa mencukupi pemenuhan kebutuhan penduduknya, yaitu sekitar 65 persen dari penduduk Indonesia. Jakarta bisa menjadi gambaran ketidakcukupan air ini. Setiap hari penduduk Jakarta diperkirakan membutuhkan air 175 liter/orang. Dengan hitung-hitungan untuk 9 juta penduduk, maka diperlukan 1,5 juta meter kubik per hari. Ironisnya, perusahaan air minum mengaku baru bisa memenuhi 52 persen saja dari kebutuhan tersebut, hayah…lalu sisanya air macam apa yang kita konsumsi? Hiii…


Fakta lainnya, bukan Jakarta saja yang krisis air. Beberapa daerah terpencil di Indonesia justru sudah lama mengalami ini. Tahun lalu, koran Kompas sempat melaporkan kondisi ini. Di Gunungkidul, warga masih harus membiasakan diri membelanjakan rata-rata Rp 120 ribu untuk membeli air sebanyak 5.000 liter. Padahal daerah tersebut adalah lokasi Proyek pengangkatan air sungai bawah tanah, megaproyek antara Indonesia-Jerman senilai Rp 65 Milyar untuk memenuhi kebutuhan air warga. Hingga sekarang, lima buah pompa yang disediakan belum bisa dioperasikan maksimal sesuai target debit air yang diharapkan. Hingga kini pun Gunungkidul masih masuk daftar daerah di Indonesia yang terancam krisis air bersih hingga setidaknya 10 tahun mendatang. 


Ketiga, sudah bukan rahasia lagi, Daerah Aliran Sungai, sebagai daerah suplay air tawar sudah banyak rusak karena penebangan liar. Data Kementerian PU menunjukkan, tingkat kerusakan DAS secara nasional meningkat dari tahun ke tahun. Otomatis ini mempengaruhi ketersediaan air bersih. 



Hanya Ada 0,4% Air 


Kekhawatiran tentang krisis air bersih ini bukan hanya perlu kita alami sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Meskipun 70,8% komposisi permukaan planet bumi diliputi air, tidak seluruhnya air tersebut bisa dikonsumsi manusia. Lho kok bisa? Ya jelas bisa, karena 97,5 persen di antaranya adalah air laut, dan hanya 2,5 persen saja yang berupa air tawar.


Boleh saja bersyukur dengan 2,5 persen air tawar yang ada, tapi ternyata jumlah itu pun paling banyak masih berupa glasier (gletser; bongkahan es) di kutub utara dan selatan bumi yakni sebesar 68,7%. Kandungan air tawar terbesar kedua tersimpan di dalam tanah dalam bentuk air tanah (groundwater) sebesar 30,1% dan sebanyak 0,8% tersimpan dalam bentuk tanah beku (permafrost). Cuma 0,4 % lho yang tersisa untuk kita konsumsi, jumlah yang harus kita bagi pula dengan 7 milyar penduduk dunia lainnya.  


Sebenarnya fakta-fakta soal krisis air bukan lagi hal baru. Beberapa tahun terakhir, organisasi-organisasi pemerhati lingkungan kencang sekali menyuarakan penyelamatan air sebagai sumber kehidupan, tapi kok berita-berita pencemaran dan sejenisnya masih tidak habis-habis ya? Padahal kalau mendengar apa yang dikatakan Professor C.P. Huang dari University of Delaware, kita benar-benar sudah di ambang krisisi. Jika diibaratkan sebuah galon, maka air bersih yang tersisa untuk manusia hanyalah dua tetes saja seumur hidupnya. 



Konsekuensi


Kemudian setelah mengetahui fakta-fakta itu, apakah masih mau membuang-buang jatah dua tetes air terakhir yang kita miliki? Masih mau main obok-obokan, mengotori dan buang sampah sembarangan? Masih belum cukup merusak DAS? Kalau memang kita tak punya daya untuk membuat kebijakan atau hal-hal besar untuk menyelamatkan dua tetes terakhir itu, kita bisa melakukan hal sederhana berikut ini. 


Gunakan air secukupnya untuk berbagai keperluan kita. Pastikan keran-keran air terputar rapat dan tidak meninggalkan celah untuk mengeluarkan air. Hemat-hematlah memakai tissue untuk mencegah penebangan liar. Pikir seribu kali sebelum membuang sampai ke sungai, dan kalau bisa kita banyak-banyak menanam pohon di halaman rumah, karena sebatang pohon saja mampu menghasilkan 250 galon air selama siklus hidupnya. Ah… sebenarnya semua orang tahu teorinya. Namun yang penting adalah praktek dan konsistensinya. Betul, toh? (Esme)





 
Feature advertising
Feature advertising
Feature advertising
Feature advertising
Feature advertising
Feature advertising