23-03-2012 15:31:38  The Magic of Bali Liputan Painting Exhibition di Wisma Indonesia

article details   

Dalam rangka memperkenalkan kesenian Bali, selama 3 hari dari tanggal 18 Maret – 20 Maret, pameran lukisan bertema “The Magic of Bali” diadakan di Wisma Indonesia. Pameran tersebut dibawakan oleh 2 seniman lokal, Necky Sodikin dan Yan Suryana (Yan diwakili oleh istrinya Marina Suryana) serta difasilitasi oleh ibu Resi Jusuf (KJRI).


Necky Sodikin adalah seniman unik. Pria asal bandung tersebut mengaku bahwa ia memiliki obsesi dengan keris. Tak heran kalau disetiap karya lukisannya Keris selalu menjadi objek utama. Ia terlihat ekspresif dan bersemangat ketika berbicara mengenai Keris - objek yang baru ia eksplorasi 4 tahun belakangan ini.


“Keris itu di masa lalu berbicara soal peradaban dan identitas. Kerajaan-kerajaan (Majapahit, Mataram) masing-masing memiliki ciri khas keris yang berbeda-beda. Sekarang Keris itu berbicara tentang identitas bangsa kita (Indonesia), apalagi pada tahun 2005, sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan Indonesia,” tutur pria yang sudah melanglang buana ke berbagai benua tersebut.


Necky juga mengungkapkan banyak fakta mengenai keris yang orang awam kebanyakan tidak tahu. Bahkan keris itu ternyata memiliki kegunaan seperti ilmu Feng Shui.


“Keris itu banyak macamnya, ada seperti yang ini (menunjuk sebuah lukisannya) namanya keris harmoni. Jadi keris itu tidak selalu identik alat kekerasan. Kenapa? Karena keris ini dapat mengharmonikan energi dan bisa mencari tahu apakah ada kekuatan baik/jahat di suatu tempat. Dulu sebelum membuat rumah, orang menancapkan kerisnya di tanah untuk mengetahui energi yang ada.”


Selain Keris Harmoni, ada berbagai macam keris lainnya seperti Keris Pengetahuan. Disini Necky memberitahu bahwa jumlah lekuk yang ada di suatu keris mengidentifikasi jumlah simbol atau kekuatan magis yang ada disitu. 


Berbeda dengan Necky yang berorientasi dengan benda, lukisan Yan Suryana cenderung berorientasi pada objek manusia. Menurut Marina Suryana, lukisan suaminya selalu menampilkan makna kekeluargaan dan harmoni. Dengan corak sosial Masyarakat Hindu, lukisan Yan menyajikan kedamaian bagi mereka yang melihat.


Marina yang kelahiran Austria ini mengaku jatuh cinta dengan kesenian Indonesia sejak pertama kali bertemu dengan suaminya. “Kira-kira 19 tahun yang lalu,” ujarnya. Sejak saat itu ia melanglang buana ke Eropa dan Amerika demi memperkenalkan kesenian lukisan Bali pada dunia. 


Ibu Resi Jusuf mengaku senang bisa membantu memfasilitasi pameran kesenian tersebut. Namun sayang menurutnya hal ini tidak cukup karena dalam hal pemasaran seni, Indonesia masih belum cukup dikenal luas. Networking dan dukungan moral yang terbatas terkadang menjadi kendala. Untuk itu ia berharap masyarakat Indonesia di Australia juga turut untuk memperkenalkan kesenian budaya Indonesia kepada masyarakat Australia. (Johan)




 
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising