23-10-2011 20:19:13  6th INDONESIAN FILM FESTIVAL (IFF)

article details   

Selama 7 hari beturut-turut Australian Centre for the Moving Image (ACMI) yang terletak di tengah kota Melbourne, Australia, menjadi pusat perhatian para antusias film. Tentu saja, karena dari tanggal 19 Agustus sampai dengan 25 Agustus, sepekan penuh 6th Indonesian Film Festival (IFF) mengadakan pagelaran budaya Indonesia melalui film-film karya sineas terkenal Indonesia. Di 6th IFF yang lebih megah dan berbobot dari tahun-tahun sebelumnya ini penonton tidak hanya dapat menyelami beragam budaya Indonesia melalui film, tetapi juga melalui workshop film dan penulisan skenario serta program pendidikan di SMA dan perguruan tinggi disekitar Melbourne. Calon-calon sutradara dan produser berbakat dari penjuru dunia pun diberikan kesempatan untuk melombakan film pendek mereka di ajang bergengsi ini.


Menghadirkan sedikitnya 11 sineas ternama Indonesia yang termasuk produser, sutradara, dan aktor-aktris film, 6th IFF berhasil membuat rekor dalam sejarah IFF untuk mengadakan screening film Catatan Harian Si Boy untuk kedua kalinya karena tiket terjual habis pada pemutaran pertama. ”Merupakan suatu kehormatan dan tentunya tantangan yang besar juga bagi kami sebagai warga Negara Indonesia di Melbourne untuk membawa film Indonesia ditengah maraknya Film Festival di Melbourne. Melihat antusias penonton dan partisipan yang begitu besar, nampaknya tujuan kami untuk mempromosikan film Indonesia telah disambut dengan baik. IFF juga menjadi bentuk apresiasi tertinggi kami terhadap karya sineas Indonesia,” ujar Yolanda Yasinta, selaku Festival Manager Indonesian Film Festival edisi keenam dan tahun yang akan datang.


Malam pembukaan 6th IFF berlangsung dengan meriah. Gala Opening Night dihadiri oleh beberapa pejabat Negara Indonesia seperti Bapak Syamsul Lussa selaku Dirjen Perfilman Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, dan juga Bapak Hadi Sapto selaku Acting Consul General dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia Melbourne. Tony Sweeny sebagai Direktur ACMI pun turut hadir untuk memberikan kata sambutan. Kehadiran produser, sutradara, aktor dan aktris papan atas Indonesia seperti Marcella Zalianty, Piet Pagau, Ardina Rasti, Putrama Tuta, Carissa Puteri, Ario Bayu, Vera Lasut, Adenin Adlan dan Aditya Gumay turut meramaikan suasana. Malam itu menjadi komplit dengan adanya suguhan tarian tradisional Indonesia, hidangan khas Indonesia, dan juga pemberian plakat bagi sponsor utama 6th IFF.


Pembukaan 6th IFF dilanjutkan dengan pemutaran film Batas yang diproduksi oleh Marcella Zalianty dan disutradarai oleh Rudy Soedjarwo. Mendapat penghargaan dari pemerintah daerah setempat, film tersebut berhasil mengangkat kebudayaan dan tatanan hidup masyarakat Kalimantan diambang perbatasan dengan Malaysia. Batas dengan epik mengangkat isu perbatasan yang melibatkan penyelundupan wanita ke Negara seberang dan juga kedinginan hati para kaum kapitalis Indonesia yang kerap menimbulkan konflik ditengah keharmonisan suku asli Dayak. Pada sesi tanya jawab Marcella menyatakan bahwa Batas bukan sekedar berarti batas geografis, namun juga batas psikologis. Piet Pagau dan Ardina Rasti turut hadir dalam sesi tersebut. Piet Pagau dengan lihai menampilkan tarian suku Dayak.


Dapat dikatakan malam kedua 6th IFF merupakan malam teramai sepanjang festival. Pemutaran film Catatan Harian Si Boy, karya perdana sutradara Putrama Tuta, menjual habis kursi teater terbesar ACMI. Anak-anak muda Melbourne dengan antusias dan penuh canda tawa menyimak film yang turut booming di Indonesia. Dengan setting kota metropolis Jakarta dengan alur cerita bernuansa komedi, percintaan remaja, dan drama, Catatan Harian Si Boy telah menjadi hiburan yang sangat tepat ditengah kebisingin kehidupan kota mahasiswa Melbourne. Film ini berhasil menghidupkan kembali kenangan kehidupan anak muda kota Jakarta melalui cerita mengenai seorang pemuda, Satrio, yang mencari jati dirinya dengan ‘menyelesaikan apa yang sudah ia mulai dan menghadapi masalah hidupnya dengan jantan’. Walaupun terinspirasi oleh film tahun 80-an Catatan Harian Si Boy, Putrama Tuta menjelaskan bahwa film ini bukanlah remake dari film tersebut. Ia juga memaparkan bahwa justru film ini ingin menjelaskan kalau kehidupan ideal dan serba lancar yang dialami Boy jaman dahulu tidak ada lagi di masa kini - generasi muda harus berusaha keras demi menggapai cita-citanya. Idola remaja Ario Bayu dan Carissa Puteri turut hadir dalam sesi tanya jawab.


Malam Minggu, hari pemutaran film ketiga 6th IFF membuat jantung penonton terus berdegup kencang selama 90 menit. Diproduseri oleh Vera Lasut, The Perfect House bisa dikategorikan sebagai film thriller berkualitas yang jarang ditemukan di Indonesia. Film dengan genre psychological thriller ini secara eksplisit dan intelek menilik sifat dan perilaku sosiopat seorang anak kecil yang secara misterius membunuh semua orang disekitarnya, kecuali kepribadian keduannya yang dinamainya Marchie. Dengan teknik kamera yang memukau, penonton dibuat tercengang-cengang dengan akhir cerita yang tidak terduga sama sekali. Pada sesi tanya jawab, produser mengejutkan penonton tatkala ia mengungkapkan bahwa cerita tersebut terinspirasi oleh kisah nyata dari orang-orang disekitarnya. Sampai keluar pintu teater, diskusi penonton pun terus berlanjut karena dihantui rasa penasaran yang tiada hentinya.


Film Tebus karya Muhammad Yusuf juga hadir di tengah festival. Kembali lagi penonton diserbu hawa ketakutan dan keharuan. Film ini mengangkat kisah kebutaan harta dan reputasi seorang konglomerat bisnis yang tega menghukum mati pekerja yang tidak bersalah demi melindungi nama baiknya. Kedinginan hatinya meninggalkan dirinya seorang diri, dikala ia memutuskan untuk merelakan orang-orang sekitarnya untuk mati demi harta kekayaannya. Dengan sentuhan teknik flashback film ini mengangkat nilai moral dan sosial dimana secara ironis penonton dibuat bertanya-tanya akan arti sesungguhnya dari nama besar dan uang.


Maraton film Payung Merah dan Belkibolang di hari kelima festival tak hentinya menarik antusias penonton. Film pendek Payung Merah berdurasi 10 menit berhasil memberikan potret budaya mistis Indonesia. Penonton dibuat merinding ketika seorang penumpang taksi wanita tiba-tiba menghilang tanpa jejak setelah sampai tujuan. Supir taksi, Reza, kemudian menyadari kematian tragis yang menimpa wanita cantik dan baik itu, dan menyadarkannya untuk makin mencintai istrinya. Suasana santai dan tawa geli kembali hadir saat pemutaran film Belkibolang. Kependekan dari ‘Belok Kanan Boleh Langsung’, Belkibolang secara epik menggabungkan 9 film pendek dan memberikan gambaran kehidupan malam berbagai kota di Indonesia ditengah masyarakat yang penuh dengan kesenjangan ekonomi dan sosial.


Ditengah kesibukan pemutaran film tanpa henti, komite 6th IFF juga tidak lupa untuk memadupadankan program hiburan dan program pendidikan. Terbukti dari penyelenggaraan workshop penulisan skenario film yang dibawakan langsung oleh Aditya Gumai dan Adenin Adlan. Selain itu, IFF juga menyelenggarakan pemutaran film yang didedikasikan khusus bagi pelajar sekolah di Victoria. Hasil dari kerja sama yang sangat baik dengan Victorian Indonesian Language Teachers Association (VILTA) dan Arts Institute, University of Melbourne, IFF menayangkan film Rumah Tanpa Jendela yang disambut hangat karena berhasil mengangkat realita kehidupan kelas ekonomi rendah Jakarta - seorang pemulung yang tertimpa musibah. Aditya Gumay sebagai sutradara dan Adenin Adlan selaku produser hadir dalam sesi tanya jawab.


Detik-detik penutupan 6th IFF diakhiri dengan sempurna oleh sebuah film luar biasa karya Hanung Bramantyo. Film Tanda Tanya ‘?’ yang mengundang salah satu kontroversi terbesar di Indonesia ini berhasil membuat warga Australia maupun Indonesia di Melbourne terkesima. Dengan sentuhan magisnya, Hanung secara eksplisit namun sopan dan tanpa memihak khusus ke satu pihak, dengan indah menampilkan harmoni sesungguhnya dari perbedaan-perbedaan manusia sebagai makhluk sosial. Meninggalkan perasaan haru dan sebuah definisi nyata akan kedamaian, penonton dibuat bertanya-tanya akan arti sesungguhnya dari keberagamaan budaya dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan antusias dan rasa hormat yang tinggi, penonton memberikan sambutan yang sangat meriah di akhir pemutaran film. Sesi tanya jawab dihadiri khusus oleh Hanung Bramantyo.


Seminggu penuh, mata masyarakat Melbourne dimanja dengan fenomena keberagaman budaya, sosial, ekonomi, bahkan politik Indonesia yang tertuang di layar lebar ACMI. 6th IFF merupakan sebuah bukti nyata dedikasi dan komitmen penduduk Indonesia di Melbourne dalam menyebarluaskan kebudayaan Indonesia yang secara ironis masih sering dipandang sebelah mata, bahkan oleh penduduknya sendiri. “Dengan mengangkat potret kehidupan nyata rakyat Indonesia, melalui film-film berkualitas yang kami tayangkan, saya harap ini dapat memicu sineas Indonesia untuk lebih giat menghasilkan karya yang berkualitas. Ini semua demi pendidikan dan masa depan masyarakat Indonesia,” ungkap Ronald Wicaksana selaku Chairman dan Founder dari IFF Inc. Zendi Rizki Tjandra sebagai Head of Programming kembali melanjutkan, “Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menembus dunia perfilman Internasional. Antusias penonton Melbourne yang sangat besar merupakan sebuah bukti akan itu. Ini memenuhi tujuan awal kami untuk mempromosikan dan

memberikan apresiasi tinggi terhadap karya sineas Indonesia yang patut dijunjung tinggi.”


(Oleh: Patricia Marsha Adara)




 
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising
Liputan advertising