22-02-2012 12:39:49  HOPE - LOVE - FAITH

article details      

Setiap mendengar kata cinta, kebanyakan orang menempatkannya sebagai kata kerja aktif. Mencintai. Mengasihi. Dan selanjutnya diikuti dengan upaya-upaya menunjukkan rasa cinta itu kepada orang lain. Jika orang lain itu sulit menerima cinta kita, upaya konvensional yang biasa kita lakukan adalah berusaha lebih keras lagi. Memberi lebih banyak lagi. Mengalah atau berkorban lebih dahsyat lagi. Begitu kerasnya upaya itu sampai-sampai ketika akhirnya orang lain menerima cinta kita, kita sendiri sudah ‘mati’ dan kehabisan rasa cinta.


Satu hal yang sering kita lupakan sebelum mencintai adalah…menyadari sepenuhnya bahwa kita sudah lebih dahulu dicintai. Sebelum aktif memberikan cinta yang kita punya, pastikanlah bahwa kita sudah bisa bersandar tenang pada suatu kebenaran bahwa kita dicintai. Max Lucado, yang buku-bukunya ‘langganan’ masuk daftar New York Times Best Seller, melontarkan pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan. Apakah mungkin langkah cinta kasih yang pertama bukanlah menuju ke mereka, melainkan menuju kepada-Nya? However, we cannot give (enough) what we don’t have.


Ada sebuah langkah pertama yang selalu terlupakan dalam hubungan-hubungan. Rahasia untuk bisa mencintai, menurut Lucado, adalah hidup dengan dicintai. Sebuah cinta kasih yang menyelamatkan pernikahan tidak ada di dalam diri kita sebagai manusia. Devosi yang memelihara persahabatan tidak bisa ditemukan dalam hati kita. Selalu diperlukan sebuah sumber khusus untuk mendapatkan semuanya itu. Kita memerlukan bantuan dari luar. Kita perlu ‘transfusi’ cinta untuk dapat membagikannya kepada orang lain.


Apakah persediaan cinta kasih kita hampir habis? Apakah ada seseorang di planet bumi yang sulit untuk kita maafkan? Apakah kesabaran kita telah menjadi spesies langka? Apakah harapan kita sudah habis tercecer di jalan karena dikecewakan oleh cinta dari orang lain? Kalau itu terjadi, kemungkinan kita sedang mencoba memberi apa yang tidak pernah kita terima. 


Kunci untuk dapat mencintai adalah menerima dengan iman cinta Tuhan bagi kita. Karena Dia sumbernya, maka aliran tersebut tidak akan pernah berhenti mengisi dan memperbaharui kehidupan kita. Milikilah pengharapan akan cintaNya. Percaya dirilah bahwa kita ini dicintai dengan sebuah cinta tanpa syarat dan tak berkesudahan. Ketika kita bisa beristirahat di dalam cintaNya, maka kita tidak perlu lagi bersusah-payah mencintai orang lain. Itu terjadi sebagai gaya hidup, bukan kewajiban. 


Dan ketika manusia tidak memberikan cinta yang kita harapkan, bukan masalah sama sekali. Tidak ada yang namanya patah hati, putus cinta, atau kecewa, karena kita telah menggantukan iman dan harapan kepada Sang Sumber. Pihak lain menjanjikan cinta namun gagal. Tetapi Tuhan sudah berjanji mencintai kita dan berhasil. Kita tahu pasti bahwa kita dicintai. Dan kalau kebenaran itu sudah memenuhi seluruh aspek hidup dan menyerap dalam segenap akal budi kita, maka mencintai orang lain akan sangat mudah. Terimalah kasih dari Tuhan, dan milikilah persediaan




 
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising