| 20-02-2011 17:40:58 DEMOKRATISASI GENDER |
“Ibu memasak di dapur, ayah membaca koran.” Demikian bunyi kalimat yang sering muncul dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar tahun 80-an. Tanpa sadar, sejak masih anak-anak, kita ‘terdoktrin’ soal pekerjaan apa yang pantas dilakukan laki-laki dan perempuan dalam ranah domestik. Benarkah? Dapur adalah wilayah kekuasaan wanita, begitulah paham ‘tradisional’ yang masih tertanam dalam benak sebagian masyarakat kita. Padahal kehidupan urban saat ini menuntut demokratisasi gender dalam segala aspek, termasuk mulai dari dapur. Karena itu tidak perlu heran dengan potret rumah tangga masa kini: ayah memasak, ibu icip-icip. Salah satu contoh paling gampang bisa kita lihat pada tayangan TV “Masterchef”. Acara kompetisi reality show itu menampilkan sederet pria macho yang terampil mengupas bawang bombay. Dalam episode yang tinggal menyisakan 6 peserta, 4 orang di antaranya adalah laki-laki, sementara perempuan hanya 2 orang. Di antara 4 orang laki-laki itu, ada seseorang yang berprofesi sebagai pekerja bangunan, bertubuh bongsor, dan berjanggut. Erwin Parengkuan dan Tommy F. Awuy adalah contoh public figure yang diketahui punya hobi memasak. Dalam pandangan Tommy, tuntutan hidup membuat laki-laki dan perempuan harus sama-sama bekerja dan mencari nafkah. Karena itu, pekerjaan domestik pun harus berbagi tanpa sekat gender, termasuk soal masak-memasak. Koki Gordon Ramsey terkenal ‘killer’ dan tegas di dapurnya. Sekali lagi, sebagai manusia, perempuan dan laki-laki punya hak yang sama. Karena itulah mereka disebut setara. Mereka memang berbeda, tetapi perbedaan itu tidak lantas mengharuskan adanya pembedaan. Pembedaan adalah ketidakadilan, sedangkan perbedaan adalah keniscayaan. Lucunya, masih ada saja yang salah-kaprah mengenai arti kata gender itu sendiri. Kata ‘gender’ berasal dari bahasa Inggris yang artinya jenis kelamin. Dalam kamus Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai ‘perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku’. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia, gender adalah ‘suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.’ Dengan kata lain, jika banyak orang menyerukan ‘kesetaraan gender!’, maka yang harus kita dukung secara penuh adalah kesetaraan posisi laki-laki dan perempuan. Total, tanpa pengecualian atau kata pamungkas ‘tapi…’. Pertanyaannya, benarkah kesetaraan gender sudah berlaku? To be honest, (mungkin) belum. Salah satu contohnya terlihat pada sejumlah alat transportasi umum di Indonesia. Di pintu atau jendela, ada ‘peraturan tertempel’ yang menghimbau agar memberikan tempat duduk bagi perempuan. Nah lho, ngaku-ngaku berjuang untuk persamaan gender, tapi dikit-dikit manja dan menuntut agar laki-laki mengalah dalam beberapa hal. Sebaliknya, kalau laki-laki diminta tolong mengerjakan aktivitas yang katanya ‘feminin abisss’, wajahnya langsung cemberut tak setuju. Pada tahun 2000 silam, konferensi PBB menghasilkan ‘The Millenium Development Goals’ (MDGs) yang mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebagai cara efektif untuk memerangi kemiskinan, kelaparan, dan penyakit serta menstimulasi pembangunan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Dengan demikian, gender adalah perbedaan peran, sifat, tugas, fungsi, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dan dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Jadi jangan pernah merasa heran kalau suatu ketika ada pria memasak di dapur atau wanita mencuci mobil. Apakah kita mau dibedakan? (JW) -------------------------------------------------------------- TIDAK SEPARAH ITU, KOK! Pria dari Mars dan Wanita dari Venus. Terus terang saya selalu jengah memandang buku-buku seperti itu. Menurut saya, John Gray, sang penulis, serta segenap penulis sejenisnya terlalu membesar-besarkan perbedaan dua kutub antar pria dan wanita yang sebenarnya tidak sebegitu parahnya, melainkan kita sendiri yang membangunnya setiap hari semenjak dari kecil. Menurut saya, pria dan wanita tidak seberbeda itu! Perbedaan planet pria dan wanita adalah sebuah narasi retorik yang enak didengung-dengungkan sehingga keadaan terasa lebih sulit untuk diperbaiki daripada seharusnya. Terkesan saintifik, tapi pada kenyataannya tidak begitu. Saat ini kita tinggal di dunia yang begitu kental dengan penemuan sains ini dan itu yang mengakibatkan sains begitu cemar dan abu-abu. Hampir setiap hari kita mendengar stereotip pria-wanita yang dipresentasikan sebagai seolah-olah fakta padahal sebenarnya adalah opini media massa yang diterima begitu saja tanpa filter cerna yang baik. Erina L. MacGeorge dari Universitas Purdue menerbitkan tulisannya yang berjudul The Myth of Gender Cultures: Similarities Outweigh Differences in Men’s and Women’s Provision of and Responses to Supportive Communication dalam jurnal Sex Roles yang menjernihkan suasana keruh tersebut. Setelah melakukan riset pada 417 wanita dan 321 pria, ia tidak menemukan bukti kuat kedua gender itu memiliki budaya komunikasi yang berbeda. “In fact, the author finds, the sexes are very much alike in the way they communicate. Both men and women view the provision of support as a central element of close personal relationships; both value the supportive communication skills of their friends, lovers, and family members; both make similar judgments about what counts as sensitive, helpful support; and both respond quite similarly to various support efforts.“ Semenjak kecil kita terbiasa diajarkan perbedaan pria dan wanita dari segi minat, keahlian, atau gaya komunikasi. Pria dengan otomatis percaya bahwa dirinya kurang sensitif, cepat bosan, dan minim empati, sementara wanita otomatis percaya bahwa dirinya kurang cocok untuk kegiatan yang kompetitif, kepemimpinan, atau profesi yang matematis dan teknis. Sejumlah riset ternyata telah membuktikan bahwa mereka berdua sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan seperti itu. “Researchers examined the standardized test scores of over 7 million students in grades 2 through 11, and found no difference in performance between girls and boys. They also checked to see if a gender gap appeared in high school, as had been shown in a study 20 years ago. But researchers found no difference in scores among today’s students, which they attributed to an increased number of girls taking advanced math classes.” Jadi, mitos perbedaan komunikasi pria dan wanita sepertinya lebih bersifat dogma dan hipotesis yang ditularkan dari generasi ke generasi tanpa ada yang berani menyuarakan yang sebaliknya. Tidak peduli apakah kita pernah membaca buku Pria Mars & Wanita Venus atau tidak, tapi kita pasti percaya akan ada pembedaan-pembedaan seperti itu, dan kepercayaan itu membuat kita menemui kesulitan yang seharusnya tidak dialami. Siapakah yang paling bersalah dalam hal ini? Menurut Lise Elliot, penulis Pink Brain Blue Brain: How Small Differences Grow Into Troublesome Gaps, jawabannya adalah… para orangtua! Mereka menciptakan begitu banyak batasan identitas yang pada akhirnya membuat anak-anak mereka mengalami ‘kecacatan’ saat menjalani kehidupan sebagai orang dewasa nantinya. “Our children become a self-fulfilling prophecy - they turn into the kids we, by and large, imagine them to be. Parents don’t usually do this consciously, of course. It is the stereotyped roles hammered into us at an early age, reinforced by consumerism and toy makers and commercials, and our own mothers and fathers. Boys are athletic and competitive, while girls are less so, and more social and emotional. These are stereotypes we imprint on our children; but they are not naturally this way.“ Barangkali kita telah termanipulasi oleh orangtua dan lingkungan. Saatnya untuk memanipulasi balik dan mengembalikan citra diri kita menjadi sosok yang lebih bebas dan lepas dari batasan-batasan tersebut. (Terimakasih kepada Lex dePraxis) |







