23-01-2010 21:14:06  ANYTHING IS POSSIBLE …when you believe.

article details   
Kita bisa membaca buku The Secret puluhan kali. Kita boleh menonton film Facing The Giants sampai juling. Kita juga leluasa merenungkan pesan motivator John C. Maxwell sampai hafal lahir dan batin. Begitu banyak materi yang berusaha meyakinkan kita bahwa segala sesuatu adalah mungkin. Anything is possible. Semua materi dikemas dalam rangkaian kalimat indah, audio-visual canggih, atau kiat-kiat jitu. Sepuluh orang sangat menyukai ide tersebut: bahwa tidak ada yang mustahil untuk digapai. Sayang, dari sepuluh orang itu, biasanya yang gagal ada sembilan.

Mudah-mudahan ada yang memperhatikan formatika penulisan judul di atas. Mengapa kalimat “anything is possible” dicetak besar dan tebal -  sedangkan kalimat “when you believe” dicetak mungil? Jawabannya sederhana… karena memang itulah yang sering menimpa kita. Banyak orang senang dengan konsep “anything is possible”. Mereka merasa terdorong semangatnya saat ngebayangin hal-hal besar yang bisa tercapai. Tapi saat diminta untuk percaya sungguh-sungguh, banyak yang walk out. Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa ‘percaya’ bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan. Seringkali iman dan kepercayaan kita terlalu kecil – tidak sebanding dengan impian besar yang ada di kepala.

Kabar baiknya; it IS possible. Frasa itu nyata, kok. Baca saja sepenggal lirik lagu When You Believe yang dinyanyikan Whitney Houston dan Mariah Carey, “…we were moving mountains long before we knew we could…” Banyak hal yang kita sangka mustahil – toh ternyata bisa terjadi. Masalahnya, kita seringkali terlalu cepat ‘memprediksi’ yang aneh-aneh. Kita buru-buru membunuh keyakinan itu sebelum mempelajarinya secara detil. Jangan lupa, anything is possible bukan omong kosong selama kita memahami ‘variabel-variabel pendukungnya’.

Sebelumnya tertulis: dari sepuluh orang yang menyukai konsep ‘anything is possible’, biasanya ada sembilan yang gagal. Sosok Justinus Alfred (28 tahun) menjadi contoh nyata satu orang yang berhasil. Meet our mate, Justin, ‘the motorcycle soloist’ yang baru membuktikan bahwa yang tampak mustahil ternyata bisa dilakukan. Misalnya? Keliling Australia sepanjang 18.600 kilometer dengan mengendarai sepeda motor. Sendirian. Iseng? No. It’s about his dream of adventure.

“I’m sure the story will captivate the readers,” demikian kalimat yang paling menarik perhatian waktu membaca e-mail dari Justin, cowok asal Jakarta yang menetap di Oz untuk menyelesaikan kuliah di bidang Industrial Design. Awalnya ragu juga - memang apa yang spesial sih dari keliling-keliling naik motor? Lalu tiba-tiba bayangan peta benua Australia ada di kepala. OH GOD. KELILING AUSTRALIA NAIK MOTOR?. DELAPAN BELAS RIBU ENAM RATUS KILOMETER? (I am captivated. Kalau jalan kaki sejauh itu, saya udah beranak-cucu di tengah jalan. Jauh aja, man!).

Justin melakukan trip keliling Oz sendirian di atas motor BMW R1200GSA kesayangannya. Selama 43 hari (3 Agustus 2009 - 14 September 2009), ia melintasi enam Negara bagian Oz: New South Wales, Queensland, Northern Territory, Western Australia, South Australia, dan Victoria. Not to mention Australian Outback yang tempat-tempatnya bahkan belom pernah terdengar oleh publik Indonesia! “It’s about overcoming my fear and realizing my dream,” tutur Justin. Mengatasi rasa takut dan mewujudkan mimpi dengan cara keliling Oz naik motor? Who is this guy?

Satu jam wawancara dengan Justin rasanya belum cukup ‘mengupas habis’ semangatnya yang berapi-api. Mendengar ceritanya tentang perjalanan itu pun bagai membaca dongeng. Ia membuat saya merasakan sendiri pengalamannya. Waktu ia cerita tentang membangun tenda di pinggir hutan, saya merasa ngeri. Waktu ia mengucapkan syukur karena nggak diganggu hewan-hewan liar atau orang jahat sepanjang malam di dalam tenda, saya ikut-ikutan merasa lega. Waktu ia bilang merasa terhipnotis saat melintas Nullarbor ‘Australia’s longest straight road: 146,6 km’, saya juga merasa pusing.

Sebaliknya, berjuta-juta obyek indah yang disaksikan Justin di seluruh pelosok Australia membuat saya berdecak kagum. Pictures tell all, dan banyak orang merasa beruntung bisa menikmati foto-foto yang diambil Justin sepanjang perjalanannya. Foto juga menjadi saksi bisu yang memperlihatkan bagaimana pertemanan terjalin sepanjang jalan. Justin loves to meet new people, dan perjalanan ini memungkinkannya bertemu dengan berbagai karakter orang dari daerah yang berbeda-beda; mulai dari warga ‘perkampungan’ yang ramah hingga sesama ‘motorcycle soloist’ yang sedang keliling dunia!!! (…Justin’s next trip? “We’ll see,” he laughed. ATTENTION! He LAUGHED. This could be a warning for his wife? Uh-oh…)

Waktu melakukan perjalanan ‘nekat’, Justine masih single. Tak lama setelah merampungkan trip dengan selamat, ia pun menikah dengan sang tunangan (bukan, tunangannya bukan motor BMW). Apa waktu itu sang tunangan tidak khawatir dengan trip calon suami? “She worries all the time. Tapi tetap support, kok!” jawab Justin. Restu dari keluarga, khususnya orangtua, sangat penting bagi Justin. Baginya, kalau orangtua tidak merestui perjalanannya, ia pasti batal berangkat. Justin sama sekali nggak berminat ‘pergi diam-diam’, karena hal itu justru menghambat perjalanan dari segi psikologis.

“Orangtua saya cuma tanya, ‘kamu tahu kan resikonya?’ Setelah itu mereka mendukung,” tutur Justin. Resiko yang dimaksud bukan resiko main-mainan. Bagaimanapun, naik motor saja sudah ada resikonya. Apalagi mengendarai motor sejauh belasan ribu kilometer? Lalai sedikit saja, nyawa taruhannya. “Misalnya di tengah jalan tiba-tiba melintas binatang liar, kita bisa kaget dan jatuh dari motor. Resikonya, bisa kehilangan kaki,” kata Justin. Resiko pun bertambah karena motor yang dibawa Justin adalah motor gede dengan banyak muatan. Perlu keterampilan untuk bisa selamat.

“Saya percaya bisa mewujudkan impian keliling Oz dengan motor. Anything is possible, tapi bukan berarti gampang. Harus ada strategi, ” jelasnya lagi. Justin melakukan persiapan selama tiga bulan sebelum berangkat. Ia memodifikasi motor untuk dapat memuat berbagai perlengkapan. Sebagai lulusan product design, ia membuat sendiri ‘kotak serba ada’ yang diletakkan pada motornya. Di dalam kotak itu ada tenda, bahan makanan, kompor, dan pakaian. Selama itu pula ia menjaga kesehatan dengan pola makan sehat.

Dari sini kita melihat bahwa keinginan Justin keliling Oz dengan motor bukan sekadar nekat. Ia mempersiapkan fisik, mental, dan memperhitungkan segala sesuatu. Bagi Justin, punya mimpi itu sangat baik. Tapi lebih baik lagi kalau mimpi itu dibuat menjadi nyata. Caranya, ya dengan bertindak. “Just do it! Waktu memutuskan untuk trip, saya nggak cerita-cerita ke teman. Saya langsung saja siap-siap sendiri. Kalau banyak orang tahu, akan makin banyak yang bikin kita ragu. So, just do it!” kata Justin. Good point.

Akhirnya, Justin toh pulang dengan selamat. Jenggotan, brewokan, lusuh, terbakar matahari, but overall, he made it. Keliling Australia sejauh 18.600 km selama 43 hari, sendirian. Ia sangat-sangat-sangat bahagia dan puas dengan perjalanannya. “When you reached your dream, it’s priceless,” kata Justin – yang mengaku mau fokus ke keluarga dulu dalam tahun-tahun mendatang. Maklum, newlyweds!

Perjalanan Justin menginspirasi teman-temannya, terutama sesama penggemar motor. Banyak yang ingin mengikuti ‘jejak’ Justin – keliling negeri dengan sepeda motor. Tapi yang terpenting, ia berbagi pengalaman supaya setiap orang menyadari ‘mimpi’ dalam hidupnya. Buat Justin, sayang sekali kalau seseorang nggak punya mimpi dan tujuan (goal). “Kita harus punya goal. Setelah itu, do something about it. Bikin strategi. Jangan cuma dibawa mimpi terus, nanti gak akan pernah jadi,” tutur Justin.

“Anything is possible” bukan mimpi di siang bolong. It is real. Some people experienced it, termasuk Justin. But only if… you believe in it and start to do it NOW. Yang terpenting adalah percaya dan yakin pada diri sendiri. If you think you can do it, then you can do it. Just believe in yourself first. Bagaimana dengan kendala dan rintangan yang akan menghadang? “One important thing, kita harus berdoa,” tutup Justin dalam wawancaranya. Good point.

Tahun baru selalu punya ‘magic’ tersendiri yang membuat kita punya semangat extra dalam menjalani hari-hari. Biarlah pengalaman Justin menjadi ‘cerita pembuka’ di antara banyak cerita lain yang akan terjadi tahun ini. Cerita yang datang dari pengalaman kita semua – para pembaca setia Indomedia. Jangan tunda waktu untuk mewujudkan mimpi kita… just do it now because anything is possible! (Jossie)

Bagi pembaca yang terinspirasi dan ingin sharing, bisa menghubungi Justin melalui email
editor@indomedia.com.au


COVER PAGE:
Model: Justinus Alfred & BMW R1200GSA
Photographer: Amelia Soegijono @ Captured Art Productions
Location: Glebe Park


 
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising
Cover story advertising